Dinosaurus kecil mirip-unggas asal Amerika Utara menetaskan
telur-telurnya dengan cara sama seperti yang dilakukan burung-burung
pengeram - hal ini serta merta kian memperkuat kaitan evolusi antara burung dan dinosaurus.
Salah
satu dari sekian banyak misteri yang ingin diungkap oleh para
paleontologi adalah mengetahui cara dinosaurus menetasi telur. Apakah
telurnya dikubur dalam material sarang, seperti yang dilakukan buaya?
Ataukah ditetaskan dalam sarang yang terbuka tanpa penutup, seperti yang
dilakukan burung pengeram?
Dengan mengacu pada sekumpulan telur
yang ditemukan di Alberta dan Montana, peneliti Darla Zelenitsky dari
University of Calgary, bersama David Varricchio dari Montana State
University, secara ketat meneliti cangkang fosil telur milik dinosaurus
kecil pemakan daging yang disebut Troodon.
Dalam temuan yang dipublikasikan dalam edisi musim semi jurnal Paleobiology,
mereka menyimpulkan bahwa spesies dinosaurus ini, yang diketahui
meletakkan telurnya dalam posisi yang nyaris vertikal, mengubur
telur-telur hanya pada bagian bawahnya ke dalam lumpur.
“Telur maupun sedimen di sekitarnya menunjukkan tanda-tanda penguburan yang hanya bersifat parsial; memungkinkan dinosaurus dewasa bisa bersinggungan langsung dengan bagian sisi telur yang terbuka selama masa inkubasi,” kata Varricchio, profesor paleontologi.
Meski gaya bersarang Troodon bersifat tidak lazim, “namun terdapat kesamaan dengan penetas khas di antara burung-burung Plover Mesir yang mengerami telur-telurnya sementara sebagian dari mereka menguburnya dalam substrat sarang berpasir,” tambah Varricchio.
Para ahli paleontologi tiada henti berupaya menjawab pertanyaan tentang bagaimana dinosaurus menetaskan telurnya, namun selama ini terhalang akibat kelangkaan bukti seputar perilaku inkubasi. Sebagai kerabat dinosaurus yang paling dekat, buaya dan burung bisa menjadi media yang menyodorkan beberapa jawaban terkait. Para ilmuwan mengetahui bahwa buaya dan burung yang mengubur telurnya, terdapat lebih banyak pori-pori pada cangkang telurnya, memungkinkan terjadinya respirasi meski dalam keadaan terkubur. Berbeda halnya dengan burung-burung pengeram yang tidak mengubur telurnya; jumlah pori-pori pada telurnya lebih sedikit.
Para peneliti menghitung dan mengukur pori-pori pada cangkang telur Troodon untuk menilai bagaimana terjadinya penguapan air yang melalui cangkang, kemudian dibandingkan dengan telur dari buaya, burung bersarang-gundukan dan burung pengeram.
Mereka optimis metode ini juga bisa diterapkan pada fosil telur spesies-spesies dinosaurus lainnya untuk mengungkap cara inkubasi yang mereka lakukan.
“Untuk sementara, penelitian khusus ini membantu membuktikan bahwa beberapa perilaku menetas seperti yang dilakukan unggas sudah berevolusi pada dinosaurus pemakan daging sebelum kemunculan unggas di muka bumi. Hal ini juga kian menambah bukti yang menunjukkan eratnya kaitan evolusi antara burung dan dinosaurus,” ungkap Zelenitsky.
Kredit: University of Calgary
Jurnal: David J. Varricchio, Frankie D. Jackson, Robert A. Jackson, Darla K. Zelenitsky. Porosity and water vapor conductance of twoTroodon formosuseggs: an assessment of incubation strategy in a maniraptoran dinosaur. Paleobiology, 2013; 39 (2): 278 DOI: 10.1666/11042
sumber :
http://www.faktailmiah.com/2013/04/20/studi-telur-mengungkap-eratnya-hubungan-evolusi-antara-burung-dan-dinosaurus.html






Teori evolusi semakin berkembang seiring banyaknya penemuan baru. Nice :)
BalasHapus